Entri Populer

Jumat, 08 Agustus 2014

aku takut berdoa tentangnya

di antara hitungan detik yang kian mengelitik, aku terus saja menikmati canda ini. hati sibuk menduga-duga, mungkinkah memang hanya aku yang memenuhi pikirannya sekarang, atau hanya aku yang menjadi inginnya, menyenangkan sekali jika dugaan ku memang benar. ku biarkan ia menembus ruang dan waktu mengisi hari hari ku dengan senyuman yang tak logis. ku nikmati segala caranya memperlakukan hati ku. tapi berkali kali ku berdoa tentangnya, memaksa ku untuk kembali mengubah dugaanku. jawaban atas doaku membuatku harus kehilanganya. 


Senin, 04 Agustus 2014

Menjatuhkan cinta pada milik dia.

tuan untuk kamu ketahui, malam ini aku kembali pada titik dimana aku akan gelisah sepanjang malam karena aku tak mampu mempertahankan sesuatu yang telah baik menjadi tetap baik.
tuan untuk kamu ketahui, aku telah membangun kutub utara ku, agar tak bisa kau lelehkan dengan sinarmu.
tapi, tuan, aku terlalu sombong.. bekuan yang tlah ku bangun tak sekuat sinarmu. tanpa ku sadari ia telah meleleh sebelum aku bersiap, ia mencair memenuhi sesak mataku.
tuan seharusnya aku tau, es tak sebanding dengan matahari, engkau menang..

tuan, haruskah aku berpura-pura tidak kedinginan dengan lelehan es ini?
tuan, haruskah aku tetap disini menyusun butiran lelehan, dan berharap ia akan membeku, walau sinarmu tetap menyilaukan? mustahil.
aku tak sekuat itu tuan.. 

tuan, bicara tentang cinta, cinta tak jatuh disembarangan tempat.
tuan bicara tentang cinta, cinta tak mampu memilih orang yg tepat untuk di jatuhinya,
tuan bicara tentang cinta,  cinta tak bisa merencanakan waktu yang pas untuk dijatuhinya.

dan jika aku bicara tentang cinta, aku akan menangis.
karena aku tlah menjatuhkan cinta pada milik dia.



Minggu, 06 Juli 2014

PEYEMPUAN

nama ku rinjani, aku kuliah disalah satu universitas negri disini, dikota yang telah setahun ini ku hirup udara nya, dan ku nikmati terik mentarinya. dulu kota ini adalah tujuan utama ku setelah tamat SMA, tapi ekspektasi tak selalu sesuai dengan realita yang di dapat, aku bahkan mengutuk kota ini sepanjang setahun terakhir ini , tepatnya semenjak dia tak lagi menjadikan aku tujuannya.
                                                               ***
sedari tadi aku hanya sibuk memandangi secangkir kopi yang ku pesan, aku duduk di salah satu sudut kave tempat favorite ku akhir-akhir ini, lamunan ku berjalan dan sampai ke waktu setahun yang lalu, ku hembuskan nafas ku yang terdengar berat perlahan.
" seharusnya aku tak begini " ucapku lirih pada diri sendiri.
tiba-tiba bahu ku terasa berat dan hangat, aku segera menoleh kebelakang berharap tak ada ancaman yang berbahaya dari sana.
" hai.." sapa pemuda berbaju kemeja kotak kotak lengan panjang yang lengan nya di gulung sesiku dan celana pendek dibawah lutut memakai sendal seadanya. ahhh pemuda itu memang selalu mempesona bagi ku. nama nya gandi, dia adalah alasan ku sampai di kota ini, dan dialah penyebab aku mengutuk ngutuk tempat indah ini.
" hai.silahkan duduk." ucapku, berusaha menghilangkan kegugupan ku, agar tak tampak olehnya.
" sudah lama ya? maaf ya, tadi macet" ucapnya dengan senyum tipis yang sangat ku hafal.
"enggak kok, aku juga baru sampai" kali ini aku berbohong, aku sudah disini sejak dua jam yang lalu, tepatnya setelah dia meminta ku untuk bertemu.
"sudah lama ya kita gak ketemu, kamu apa kabar? " ucap gandi masih dengan senyumannya yg hangat.
" baik, hehe," tertawa ku terdengar seolah sedang dipaksakan. ahhh.. rasanya aku mau pergi saja dari sini, pemuda ini pasti sudah merasakan ketidak wajaran dari setiap gerak gerik ku. matanya terus menelusuri setiap sudut mata ku.
" bagaimana kuliahnya rinjani?" ucap gandi. bagi ku, ucapan nama lengkap ku dari mulutnya terdengar asing. dulu kami tak pernah memanggil satu sama lain dengan sebutan nama. ah.. semua memang sudah berubah.
" ya begitulah, kadang asik, kadang membosankan, ya ampun,,,maaf aku lupa, aku ada janji. aku gak bisa lama-lama. aku pergi dulu ya" otak ku langsung berfikir keras untuk mencari alasan agar aku keluar dari tempat ini, semoga saja dia tak menyadarinya. 
                                                              ***
tubuhku kubiarkan terbenam dalam pelukan selimut, dengan mata yg terpejam aku asik mengenang dan berdebat dalam diam tentang kejadian tadi siang, dengan sesekali hembusan nafas yang panjang keluar dari mulut ku, rasa nya hati dan pikiran ku mau pecah,, 
"yang benar saja, apa aku sudah gila?  gandi gak mungkin merindukanku, pertemuan tadi hanyalah sebuah kewajaran dengan basa basi seadanya. ah iya.. itu hanya basa basi, tapi untuk apa dia sibuk berbasa-basi? mungkin saja dia sedikit merindukan ku, aahh iya.. hanya sedikit, lagian semua sudah berakhir, sedikitpun takkan berarti. tapi aaaaaaa... betapa bodohnya kamu rinjadi, kenapa tadi gak nanya?gandi tak mungkin mengajak mu bertemu kalau tidak ada sesuatu yang penting. mungkin saja sebentar lagi gandi akan menelpon? dasar bodoh, kamu pikir kamu siapa? mngapa gandi harus menelpon mu?sudahlah rinjani, lebih baik kamu tidur..
                                                                 ****





Selasa, 10 Juni 2014

Tentang kamu, dan es krim kesukaan mu.

ini adalah hari kelima aku memperhatikannya dari sisi yang tak terlihat olehnya, aku memperhatikan setiap sudut dari wajahnya yang terlihat sangat menikmati es krim rasa coklat vanila yang selalu ia pesan pada pelayan cafe. hujan rintik- rintik di luar tidak mengurungkan niat ku untuk memesan semangkok es krim yang sama dengan perempuan yang sedari tadi ku perhatikan itu. aku memutuskan untuk menyukai es krim coklat vanila seperti kesukaanya. perempuan itu, entah siapa namanya, ia sedang memakai baju warna pink lengan panjang dengan rok crem, wajah nya tampak bulat dibingkai oleh jilbab crem polos. dari sini aku bisa melihatnya dengan jelas, sesekali ia tersenyum memperhatikan layar ponsel nya, ah mungkin saja dia sedang... aku tak mau memikirkan yang tak ingin ku pikirkan.
                                                             ***
aku tak menemuinya ditempat biasa ia duduk, perempuan itu dimana? seharusnya ia sudah duduk di sebelah sana, di tempat ia biasa duduk menikmati semangkok es krim kesukaanya, aku menelusuri setiap sudut ruangan yang tidak terlalu ramai ini dengan kedua mata ku, aku melangkah menemui salah satu pelayan di cafe itu.

" maaf mbak, saya mau nanya, perempuan yang biasa duduk disini, yang biasa pesan es krim, apakah sudah datang? " 
" oh..mbak tasya, belum mas, hari ini saya belum liat mbak tasya, mungkin sebentar lagi" pelayan itu tersenyum sambil berjalan menuju kepengunjung lainnya.
" ooooh jadi namanya tasya, oke aku akan tunggu.." ucap ku dalam hati.

aku masih sibuk melirik pintu utama cafe yang sedari tadi terbuka dan tertutup oleh pengunjung cafe. aku berharap wajah yang ku cari-cari segera datang. kali ini aku harus bisa berkenalan dengan perempuan itu. perempuan yang setiap malam membuat ku menyesali sepanjang hari ku, karena tak berani berkenalan atau sekedar menyapanya memberi sedikit senyuman. aku selalu gugup setiap kali ingin melangkahkan kaki ku untuk mendekatinya, jantung ku yang berdetak begitu kecang seolah-olah ia sudah berlari puluhan kilometer. 

Akhirnya yang ku tunggu pun datang, kali ini ia menggunakan kemeja coklat bergaris-garis merah dengan rok maroon, wajahnya yang terbingkai oleh jilbab maroon tampak tersenyum kearah ku beberapa detik dan akhirnya mengarahkan pandangan nya pada meja tempat memesan es krim kesukaannya, aku berjalan mengiringi nya dari belakang, berusaha untuk memacunya agar kami bisa berjalan beriringan, sesampai dimeja tempat memesan es krim aku segera memesan 2 es krim untuk ku dan untuknya.
 
"dua es krim coklat vanila nya ya mas, satu untuk saya, dan satu lagi untuk mbak yang disebelah ini" kata ku kepada pelayan dan melirik perempuan yang melihat ku dengan wajah bertanya, senyum nya sedikit dipaksakan, dan ah entahlah, aku tak berani menatapnya lama-lama. aku hanya tersenyum seramah mungkin, dan segera mengarahkan pandangan ku kepada pelayan yang sibuk mengambilkan pesanan kami, jantung ku sungguh tak bisa dikendalikan.
" maaf mas, kenapa memesankan untuk saya?" kata perempuan disebelah ku, dengan senyum nya yang sudah sangat ku hafal.
aku hanya mampu tersenyum kearahnya, tanpa terfikirkan jawaban yang pantas untuk pertanyaannya. otak ku begitu buntu dan tak berkerja disaat- saat seperti ini. hingga akhirnya pesanan yang tadi ku pesan sudah berada dihadapan kami berdua, aku segera mengeluarkan dompet ku, tapi perempuan yang dari tadi menatapku dengan wajah heran telah lebih dulu menyodorkan uang nya. dan mengambil es krim dihadapannya.
" terima kasih ya mas" ucapnya tersenyum melangkah meninggalkan ku, menuju tempat yang biasa ia duduki.
 aku segera menyusul nya, dengan menggengggam semangkok es krim ku. 
" boleh duduk disini?" ucapku menunjuk kursi yang berhadapan dengan kursi yang ia duduki.
" boleh, silahkan mas", sambil tersenyum.
senyum nya kembali membuat jantung dan otak ku tak karu-karuan. tiba-tiba ponsel nya berbunyi membuat nya mengalihkan senyumannya dan memperhatikan tas tempat dimana ponsel nya berdering, ia melihat layar ponselnya dengan tersenyum tipis dan segera meletakannya ditelinga.
" halo sayang, ada apa? iya? aku lagi d cafe biasa, apa? iya nanti aku kesana, nanti aku ceritain, dahhh..." ia, menutup ponsel nya dan meletakan kembali ke dalam tas yang berada disampingnya.

 aku menatapnya tak percaya ditengah-tengah pembicaraan nya dengan orang yang diujung telpon sana, aku tlah patah hati. aku tak berani melihat nya lagi, aku hanya sibuk menghabiskan es krim yang ada di hadapan ku, aku tak peduli ia melihat ku dengan terheran-heran menghabiskan es krim ku dengan buru- buru. 

"aku harus pergi, terimakasih atas es krim nya" aku memaksakan senyumku agar tak terlihat aneh dihadapannya, ia masih menatapku dengan wajah yang terheran-heran.
"tapi,... " ucap tasya.
belum sempat ia melanjutkan perkataan nya, aku sudah melangkah pergi meninggalkannya, aku tak ingin ia melihat ku patah hati seperti ini dan terus menatapku dengan wajah yang terheran-heran. dengan percakapannya di ponsel tadi sudah cukup memberiku penjelasan untuk tidak berharap terlalu banyak padanya.

setelah beberapa menit ditinggalkan oleh laki-laki yang belum sempat ia tau namanya itu. tasya segera mengirim pesan singkat pada sahabat nya yang menelpon tadi." kamu tau? tadi laki-laki yang beberapa hari ini membuat ku sering ke cafe ini, duduk dihadapan ku"



Selasa, 25 Maret 2014

Bukan untuk mu.

hati ku tak sedang retak ataupun patah setelah kejadian semalam, aku masih bisa tersenyum, hanya saja kadang terselip kesal dan doa, kesal karena aku tak lagi diperjuangkan, doa ku agar setelahnya tak ada sesal ataupun semacamnya..

senyum ini berisikan sepi, aku merasakan sepi yang berbeda dengan sepi yang dia berikan kepada ku sebelumnya.. aku memang sudah biasa dengan sesuatu yang berwujud sepi, tapi kali ini berbeda.. sepi ini tak bisa ku obati dengan hanya mengganggu nya di sela kegiatan nya yang tak pernah kulihat terlalu banyak sehingga membuatnya tak menghiraukan aku. aku tak mungkin bisa lagi seperti itu.. 

hey kamu yang dulu pernah aku perjuangkan sampai malam itu, apa kabar? apakah sebaik dugaan mu ? atau memburuk setelah malam itu? aku tak mau menduga- duga jawaban dari pertanyaan ku tadi, karena aku tak mau larut memikirkan mu. iya, kali ini aku lebih memilih tidak memikirkan mu, seperti aku menghabiskan hari- hari ku dulu.