Dia adalah seorang lelaki jawa tulen yang berbicara dengan bahasa indonesia berlogat jawa yang sangat modus, atau mungkin bisa dibilang bahasa jawa yang dipaksakan menjadi bahasa indonesia, atau kebalikannya, oh sudahlah. Dia bernama Cokro, ia sekrang tengah menjalani studinya di sebuah universitas negri ternama di Sumatra Barat.
"aku jurusan sistem informasi, semester 6" ucapnya dengan medok jawa disana sini kepada ku.
Aku menutup mulut berusaha menyembunyikan senyumku yang ingin meledak setelah mendengar kata demi kata yang meluncur dari bibirnya yang merah, dan sedikit agak tebal. Aku sungguh terkagum- kagum padanya bercampur dengan rasa iri, asal tau saja jurusan yang ia diami saat ini dulu sempat menjadi impianku, tapi sayang memang, aku tak dapat melanjutkan cita- cita sesaat ku itu.
"jadi kamu penyuka kopi juga toh?" ucap cokro kepadaku masih dengan logat jawa yang kental, sekental kopi yang ia pegangi sejak dari tadi.
Aku hanya tersenyum memandanginya sambil membuat gerakan kepala keatas dan kebawah agak beberapakali, menandakan iya.
"apa kamu tidak takut dengan efek dari kopi?ntar giginya item- item piye?"sekarang ia memandangiku dengan senyuman yang melebar hingga tampak semua gigi depannya yang putih dan tersusun rapi, aku sempat berfikir apa dia seseorang pemerhati kesehatan gigi yang baik, hingga dari senyumnya tak tampak ia seorang penggila kopi kronis.
"piye toh mas, mas..? mas saja kan juga sangat suka kopi, masih punya gigi yang bagus toh? mengapa aku harus takut? hehe" aku berusaha mengimbangi bahasa jawanya dengan bahasa jawaku yang bercampur logat minang karna memang aku berasal dari keluarga minang, yang sehari- hari berbicara dengan bahasa minang, jadi agak sulit bagiku unuk menghilangkan logat minangku yang sudah mendarah daging.
Entri Populer
Selasa, 24 April 2012
Selasa, 03 April 2012
Nasibku !!!
Lagi-lagi aku melihat senyuman itu, senyum yang mulanya biasa saja terlihat luar biasa di wajahnya dengan mata yang menyipit efek dari senyumnya sedari tadi. Aku yakin sekali, kali ini ia telah menerima kabar yang menyenangkan hatinya, tapi membuatku gusar dan slalu menduga- duga, apakah hal yang menyenangkan itu takkan berimbas kepadaku? Aku mulai khawatir dengan nasibku. Perlahan- lahan aku mulai menenangkan diri dan meyakinkan diriku akan baik- baik saja setelah menerima kabar yang menyenangkan untuknya dan menghancurkan hatiku, aku kuat ya Allah, aku yakin ini yang terbaik.....
Sudah kuduga bila ia tak menghampiriku seperti biasa di ruangan dengan lorong- lorong buku yang penuh debu ini berarti akan ada hal buruk yang menimpaku, aku terus menatapnya berharap ia melihat kearah ku dan membagi sedikit senyumnya kepadaku, ku tunggu ia menghampiriku mengabarkan kebaikan kepadaku, tapi tidak, ia berjalan dari pintu penuh cahay itu kearahku, dan pura- pura tak melihatku. Aku sudah menduga itu !!!!!
Sudah kuduga bila ia tak menghampiriku seperti biasa di ruangan dengan lorong- lorong buku yang penuh debu ini berarti akan ada hal buruk yang menimpaku, aku terus menatapnya berharap ia melihat kearah ku dan membagi sedikit senyumnya kepadaku, ku tunggu ia menghampiriku mengabarkan kebaikan kepadaku, tapi tidak, ia berjalan dari pintu penuh cahay itu kearahku, dan pura- pura tak melihatku. Aku sudah menduga itu !!!!!
Langganan:
Postingan (Atom)