Entri Populer

Jumat, 08 November 2013

Dalam percakapan singkat ini.

Aku tak pernah tau kapan kamu akan menyapa dan kapan kamu akan menghilang dalam kebisuan mu, aku hanya bisa menunggu sampai suatu waktu kita dapat bertegur sapa saling bertanya kabar masing-masing dan menertawakan diri masing-masing. aku menyukai saat -saat seperti itu, saat senyum dan sapa mu menghancurkan segala sepi yang dunia ciptakan untuk ku. 

Beberapa waktu itu akan ku manfaat kan semampuku untuk bisa mengimbangi mu, membuat mu betah bertanya apa saja tentang ku, ikut sesekali bertanya juga apa saja tentang mu, ini basa- basi yang menyenangkan.

Hingga kamu lelah mengetahui semua tentang ku, mendengar celoteh ku yg sesekali diselipkan gelak tawa karna aku terlalu senang dengan percakapan ini.

Lalu kita sama-sama terdiam dalam waktu yang lama,

Sabtu, 02 November 2013

Tanpa Bahasa

littaaaaa kenapa sih senyum-senyum aja? nina penasaran dengan apa yang membuat teman dekatnya itu tersenyum sekembali dari memesan makanan td.

ada deh... hahah jawab lita iseng.

apasih litt...??? nina masih penasaran kali ini dengan mata yang melotot kearah lita, meminta penjelasan.

hhm kasi tau gak ya?lita masih saja menjawab pertanyaan nina dengan iseng.

tadi pas bayar dapat diskon ya? haelah lit itu aja pake disenyumin.... kata nina sambil melahap makanan di depannya, sudah tidak ingin tau kenapa teman nya tersenyum daritadi.
hahahaaa, lita hanya tertawa mendengar celotehan temannya.

***
sudah beberapa hari ini lita rajin mengunjungi cafe tempat ia makan bersama nina minggu kemaren. bukan karena diskon yang telah dituduhkan nina, tapi karena ada seseorang yang diam -diam ia perhatikan sering mengunjungi tempat ini. namanya rian, dia kakak kelas lita waktu SMA, rian bukan anak basket yang menjadi idola semua siswi perempuan di SMA nya, rian hanya seorang murid kutu buku yang sering duduk di perpustakaan sekolahnya, waktu disekolah dulu alasan mengapa lita menjadi rajin ke perpustakaan adalah rian, begitu juga sekarang. rian menjadi alasan mengapa lita sering mengunjungi cafe ini. tapi lita tak pernah menegur rian, ia hanya sanggup untuk memperhatikan rian dari sini, dari tempat ia duduk sekarang, memperhatikan apa saja yang dipesan rian untuk menjadi menu nya juga di esok hari, atau memperhatikan buku apa yang sedang di baca nya, untuk menjadi buku yang selanjutnya akan di baca oleh lita, lita selalu begitu.

***

hari ini lita menggerutu sepanjang kuliahnya. temannya nina hanya bisa geleng-geleng tak mengerti dengan tingkah aneh lita akhir-akhir ini.

ssshhh aduh si bapak ini, kenapa pakai kuliah tambahan sih, biasanya jam segini udah pulang,,, lita gelisah sambil melihat jam tangannya.

mau kemana sih lit?buru- buru amat? nina berbisik menanyai temannya.

pokonya penting deh nin, harus buru- buru nih, ini menyangkut masa depan. lita membalas bisikan nina.

gaya lu litttt.... balas nina dengan nada usil.tersenyum melihat kegelisahan temannya.

hari ini setelah kuliah usai lita langsung buru-buru menuju cafe dimana rian mungkin berada, tapi sesampai di cafe ia tak melihat rian di sudut manapun, cafe ini penuh karena memang sudah waktu jam makan siang, tapi untung saja masih tersisa satu tempat untuk lita, ia duduk tanpa memesan makanan, terdiam dan menerawang.

hmm boleh saya duduk disini? tiba tiba terdengar suara laki-laki yang sedang berdiri di depannya sambil membawa makanan dan minuman di kedua tangannya. ia tampak kesusahan karena membawa dua porsi makanan sekaligus. lelaki itu memakai kaca mata, dengan kemeja biru tua lengan panjang yang di gulung hingga siku, celana jeans panjang bewarna hitam, sepatu kulit navy, tampak rapi dan bersih.

tak ada jawaban dari lita, lita hanya diam membisu melihat sosok lelaki yang ada di depannya.

boleh saya duduk disini, soalnya semua meja telah penuh, lelaki itu mengulang kata-katanya dengan senyuman seadanya.

bo, boleh... lita menjawabnya kaku.

oke, makasi ya, lelaki itu kini duduk berhadapan dengan lita.

lita tidak tau harus bagaimana karena lelaki yang kini berada di depannya adalah rian, orang yang menjadi alasannya mengapa ia sekarang berada disini.di cafe ini.

kamu gak makan? tanya rian pada lita yang sedari tadi tampak kaku dan kikuk.

i iyaaa, ini mau pesan, lita buru buru beranjak meninggalkan rian dan tasnya, lalu kembali lagi sambil tersenyum kaku mengambil dompetnya yang ketinggalan.

rian hanya tersenyum tak mengerti melihat tingkah lita.

seperti biasa lita memesan apa yang dimakan oleh rian kemaren dan berjalan pelan ke arah rian setelah mendapatkan makanannya. langkah lita terhenti, ia melihat perempuan sedang tertawa bersama rian, ia seperti mengenali sosok perempuan itu, perlahan ia mulai melangkah ke arah rian dan melihat sosok nina sedang memakan makanannya bersama rian sambil tersenyum entah karna apa.

heyyy litt, kamu disini juga?oh jadi cewe yang diceritain bg rian tadi itu kamu, hahhahaha. nina tertawa lepas kearah lita.

bang rian? tanya lita tak mengerti, kali ini dengan senyuman yang di paksakan se natural mungkin.

hehe iya, bang rian ini kakak kelas kita lit, pasti deh kamu lupa. nina menjawab sambil melihat ke arah rian. kita baru jadian lit, 3 hari yang lalu, lanjut nina sambil menggenggam tangan rian.

lita tersenyum dengan hati yang begitu hancur. tiba-tiba air matanya menetes, ia tak ingin sahabat nya tau apa yang terjadi padanya.



Jumat, 01 November 2013

sewindu

ini sudah malam, kamu dimana niki? suara diujung sana terdengar khawatir menelpon niki.
aku masih di halte kak, tenang kakak ku sayang, bentar lagi pulang kok.., suara niki ceria menenangkan kakak nya.
hati-hati ya nik, cepat pulang..
iya kak,,, niki menutup telpon genggamnya dengan hembusan nafas yang panjang setelahnya.

sudah 10 menit berlalu setelah kakak niki menelpon, niki meliat keujung jalan bis yang ditunggu tak kunjung datang. tak banyak orang yang menunggu di halte bis tersebut hanya ada ibu-ibu muda dengan anak nya yang balita sedang tertidur pulas di pelukan ibunya, dan juga ada dua orang lelaki seumurannya yang sedang sibuk dengan handphone masing-masing sambil tersenyum tipis khasnya anak muda yg sedang kasmaran. .

tiba-tiba bahu niki terasa hangat dan berat, ada seseorang yang sedang memegang bahunya, niki segera menarik diri dan menoleh ke arah orang tersebut, ia hampir saja ingin meneriaki orang tersebut,tapi lidah niki tiba- tiba kelu, ia tak mampu berucap apa-apa, jantung nya tiba-tiba berdegup begitu keras, terasa mau copot. ia mengenali sosok laki-laki yang berada di depannya sekarang, dia genta, lelaki yang beberapa bulan yang lalu sempat mengpora porandakan dunia niki.

nik, apakabar?. sapa genta dengan senyum yang sangat niki hafal.
baik gen, kamu apakabar? balas niki sedikit canggung.
baik, kamu lagi ngapain disini? baru pulang kuliah ya? tanya genta.
iya gen, aku lagi nungguin bis, kamu sendiri ngapain? motor kamu kemana? hati niki mulai tak karuan.
genta hanya tersenyum melihat niki, tak memberikan jawaban sedikit pun. niki tak mengerti tapi ia tak ingin bertanya lagi, karena bis yang ditunggu nya telah datang, niki cepat-cepat berlari ke arah bis, dan melambaikan tangan kepada genta yang sedari tadi tersenyum melihat niki.

ada apa ini... arrgg..... niki menutup matanya dengan kedua tangannya, lalu menurunkan tangannya ke dadanya, ia merasakan dadanya berdegup tak karuan,aku benciiiiiiiiiii.... teriak niki didalam bis dengan suara yang sengaja di tahan-tahan agar tak terdengar penumpang yang lainnya. karena, memang bis tersebut sangat berisik di penuhi lagu.




Rabu, 30 Oktober 2013

Seandainya kita mempunyai alat untuk mendeteksi perasaan masing-masing

Aku tak pernah sesedih ini ketika berada disamping mu, hanya saja ini tak seperti biasanya, kali ini aku berfikir untuk ingin menjadi masalalu mu saja, masalalu yang selalu kamu kenang dengan senyum tipis dan mata menerawang ke masa itu. kamu tau sayang? aku cemburu! Aku mencemburui masalalu mu karna selalu membuatmu tersenyum semenawan itu.

Sedangkan  aku, aku terlihat nyata selalu disamping mu, tapi aku tak mampu menghentikan mu memikirkannya, memikirkan perempuan yg dulu sempat memiliki hatimu, mengisi hari- hari mu, membuat mu cemas karna tak diberi kabar. atau bahkan sampai saat ini....

Kukira kita saling jatuh cinta,

Selasa, 22 Oktober 2013

Surat untuknya.

Dear dia yg mungkin tidak akan pernah tau, aku selalu berangan-angan untuk menceritakan kepada mu tentang apa saja yg kualami setiap hari, berbagi apapun yg telah ku alami, lalu kita saling menunggu cerita apa yg akan kita dapat nanti setelah usainya hari, bukankah seharusnya memang seperti itu? Berbagi!!!. Tapi, sulit berbagi cerita dengan orang yang sama sekali tak tertarik dengan cerita-cerita kita, kamu selalu menyelesaikan cerita ku dengan semua cerita mu , kita seperti saling berlomba menceritakan cerita masing-masing, hingga akupun selalu kalah, lebih tepatnya mengalah. Karna aku sendiri tak menyukai perlombaan yg semacam ini. Sungguh.

Aku ingin menangis sayang!

Aku bilang ini ritual rutin ku setiap bulan yaitu menggelisahkan diri dengan menganggap semua yg terjadi menyebalkan , salah dan tidak seharusnya begitu. Aku sadar ritual wajib ini agak rumit dan begitu salah, sedangkan rasa itu selalu berdiri menyambut dan memeluk erat pikiran ku. Aku bisa apa? Walaupun sadar dengan semua ini, tetap saja, disaat perasaan demi perasaan berargumentasi seenaknya dan sesuka hati, aku kalah, aku hanya bisa menuruti seperti anak kecil yg telah mendapatkan permenya. selepas itu menyesal....

Jumat, 19 April 2013

dia pakai ilmu apa?

anggap saja namanya Liangani, ia perempuan dengan wajah putih bersih tanpa noda, agak gempal dan dagu yang menonjol mengalahkan rahang atasnya. sekilas ia biasa saja bahkan tak terperhatikan, tapi kali ini tidak, aku sengaja ingin mendekatinya dengan hati- hati, takut kalau kalau nanti yang orang- orang bilang tentangnya betul adanya., aku memasang senyuman ramah dengan penuh harapan ia membalasnya melebihi ramahnya senyumku, tapi tidak, ia hanya memandangku dengan alis sedikit dinaikan tanpa ada tarikan bibir kesamping yang menandakan kalo dia mebalas senyumku, ku tunggu dan kupandangi dia masih dengan senyumku yang mulai mengecut tak terbalas.aku tak percaya dia bisa begitu..

hah.. aku mulai tak habis pikir, mengapa dia tak membalas senyumku, bahkan yang ku tau senyuman itu bisa menular pada orang yang kita pandangi, oh ya sudahlah..

Kamis, 18 April 2013

DIA

kita bisa saja tetap sombong dengan semua pendirian salah yang kita bangun dengan segenap duka..

ini kisahnya, bukan kisahku..

dia terlihat mendung dengan seluruh kesombongannya. Aku tau, dia bukan sedang bahagia dengan senyum yang selalu mengembang di wajahnya.. dia tengah membohongi hatinya dengan kejam dan memaksa senyum tanpa ampun..

tapi malam ini tidak, aku memeluknya, ia tau maksudku,bukan untuk memaksanya berlaku benar, tapi berlaku seharusnya. alisnya mengkerut tak karuan, bibir nya terbuka lalu terkatup lagi saat ku biarkan diriku berbicara tentangnya. tunduknya semakin dalam, pada kalimat terakhirku, ia menatapku, bibirnya tampak enggan berucap, kini aku dipelukanya..

kadang sesuatu yang kita harapkan untuk menjadi yang kita harapkan tidak didapat dari orang- orang yang kita harapkan..

memang sungguh, kadang sesuatu yang kita harapkan untuk menjadi yang kita harapkan tidak didapat dari orang- orang yang kita harapkan,

aku bukan si perengek yang memaksakan kehendak dengan semua ancaman hingga orang muak mendekat, hanya saja kadang aku ingin menjadi seperti itu, memaksakan inginku untuk menjadi nyata dengan menjadi si perengek yang aku sendiri benci dengan nya.

kali ini aku hanya bisa tertawa tertahan, karna yang ku tertawakan memang bukanlah lelucon, ini hanya cara ku agar tak terlalu murka dengan kesedihan yang ku terima.

hem, ya paling tidak aku masih bisa tertawa walau tertahan, dengan sedikit merayu hati agar tak memaksa mata tuk mengeluarkan airnya, ,

Rabu, 17 April 2013

Anggap Saja

rasanya sudah lama rindu ini memaksa bertemu, hanya saja jemari tak kunjung izinkan mereka berbagi. kali ini takku biarkan si pemalas memberi alasan, aku datang :)

anngap saja, aku berbahagia dengan apa yang terjadi terhadap ku sekarang ini, ini adalah masalalu yang tampak mesra dengan masa depan, aku menikmati keharmonisan ini, aku biarkan saja ini berjalan dengan semestinya dan ku pastikan tak ada yang salah dengan ini.

anggap saja ini karma atas apa yang telah kutangisi kemaren- kemaren, karma yang indah, walau mungkin untuk sebagian orang yang memandang hidup ku mereka tak temukan keindahan atau malah hanya keadaan iba yang menggap ini semua tak adil untuk ku, tapi sungguh aku menikmati ini, aku berbahagia dengan  pencapaian ku saat ini..

anggap saja, sabar ku kini tlah bertemu ujungnya .,