Entri Populer

Sabtu, 02 November 2013

Tanpa Bahasa

littaaaaa kenapa sih senyum-senyum aja? nina penasaran dengan apa yang membuat teman dekatnya itu tersenyum sekembali dari memesan makanan td.

ada deh... hahah jawab lita iseng.

apasih litt...??? nina masih penasaran kali ini dengan mata yang melotot kearah lita, meminta penjelasan.

hhm kasi tau gak ya?lita masih saja menjawab pertanyaan nina dengan iseng.

tadi pas bayar dapat diskon ya? haelah lit itu aja pake disenyumin.... kata nina sambil melahap makanan di depannya, sudah tidak ingin tau kenapa teman nya tersenyum daritadi.
hahahaaa, lita hanya tertawa mendengar celotehan temannya.

***
sudah beberapa hari ini lita rajin mengunjungi cafe tempat ia makan bersama nina minggu kemaren. bukan karena diskon yang telah dituduhkan nina, tapi karena ada seseorang yang diam -diam ia perhatikan sering mengunjungi tempat ini. namanya rian, dia kakak kelas lita waktu SMA, rian bukan anak basket yang menjadi idola semua siswi perempuan di SMA nya, rian hanya seorang murid kutu buku yang sering duduk di perpustakaan sekolahnya, waktu disekolah dulu alasan mengapa lita menjadi rajin ke perpustakaan adalah rian, begitu juga sekarang. rian menjadi alasan mengapa lita sering mengunjungi cafe ini. tapi lita tak pernah menegur rian, ia hanya sanggup untuk memperhatikan rian dari sini, dari tempat ia duduk sekarang, memperhatikan apa saja yang dipesan rian untuk menjadi menu nya juga di esok hari, atau memperhatikan buku apa yang sedang di baca nya, untuk menjadi buku yang selanjutnya akan di baca oleh lita, lita selalu begitu.

***

hari ini lita menggerutu sepanjang kuliahnya. temannya nina hanya bisa geleng-geleng tak mengerti dengan tingkah aneh lita akhir-akhir ini.

ssshhh aduh si bapak ini, kenapa pakai kuliah tambahan sih, biasanya jam segini udah pulang,,, lita gelisah sambil melihat jam tangannya.

mau kemana sih lit?buru- buru amat? nina berbisik menanyai temannya.

pokonya penting deh nin, harus buru- buru nih, ini menyangkut masa depan. lita membalas bisikan nina.

gaya lu litttt.... balas nina dengan nada usil.tersenyum melihat kegelisahan temannya.

hari ini setelah kuliah usai lita langsung buru-buru menuju cafe dimana rian mungkin berada, tapi sesampai di cafe ia tak melihat rian di sudut manapun, cafe ini penuh karena memang sudah waktu jam makan siang, tapi untung saja masih tersisa satu tempat untuk lita, ia duduk tanpa memesan makanan, terdiam dan menerawang.

hmm boleh saya duduk disini? tiba tiba terdengar suara laki-laki yang sedang berdiri di depannya sambil membawa makanan dan minuman di kedua tangannya. ia tampak kesusahan karena membawa dua porsi makanan sekaligus. lelaki itu memakai kaca mata, dengan kemeja biru tua lengan panjang yang di gulung hingga siku, celana jeans panjang bewarna hitam, sepatu kulit navy, tampak rapi dan bersih.

tak ada jawaban dari lita, lita hanya diam membisu melihat sosok lelaki yang ada di depannya.

boleh saya duduk disini, soalnya semua meja telah penuh, lelaki itu mengulang kata-katanya dengan senyuman seadanya.

bo, boleh... lita menjawabnya kaku.

oke, makasi ya, lelaki itu kini duduk berhadapan dengan lita.

lita tidak tau harus bagaimana karena lelaki yang kini berada di depannya adalah rian, orang yang menjadi alasannya mengapa ia sekarang berada disini.di cafe ini.

kamu gak makan? tanya rian pada lita yang sedari tadi tampak kaku dan kikuk.

i iyaaa, ini mau pesan, lita buru buru beranjak meninggalkan rian dan tasnya, lalu kembali lagi sambil tersenyum kaku mengambil dompetnya yang ketinggalan.

rian hanya tersenyum tak mengerti melihat tingkah lita.

seperti biasa lita memesan apa yang dimakan oleh rian kemaren dan berjalan pelan ke arah rian setelah mendapatkan makanannya. langkah lita terhenti, ia melihat perempuan sedang tertawa bersama rian, ia seperti mengenali sosok perempuan itu, perlahan ia mulai melangkah ke arah rian dan melihat sosok nina sedang memakan makanannya bersama rian sambil tersenyum entah karna apa.

heyyy litt, kamu disini juga?oh jadi cewe yang diceritain bg rian tadi itu kamu, hahhahaha. nina tertawa lepas kearah lita.

bang rian? tanya lita tak mengerti, kali ini dengan senyuman yang di paksakan se natural mungkin.

hehe iya, bang rian ini kakak kelas kita lit, pasti deh kamu lupa. nina menjawab sambil melihat ke arah rian. kita baru jadian lit, 3 hari yang lalu, lanjut nina sambil menggenggam tangan rian.

lita tersenyum dengan hati yang begitu hancur. tiba-tiba air matanya menetes, ia tak ingin sahabat nya tau apa yang terjadi padanya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar