Eh, mentang- mentang anak guru soknya minta ampun! Senyum miring dari bibirnya terlihat jelas dan berjalan lurus hingga sampai di tempat yang tidak semestinya.
Kenapa sih?kenapa harus slalu cari masalah?ha?
Sombong...baru juga itu! Kali ini matanya beradu dengan mataku yang memendam amarah.
Ssshhhhhh...sudahlah!
Sudah apanya? Dasar anak mami.. katanya menjadi- jadi mengoyak- ngoyak kesabaran ku.
Sshhhh, * aku pergi dengan bersungut- sungut
***
waktu pun menjelang, aku masih merasakan situasi itu, merasakan sungut yang menjadi- jadi dalam diriku. Tatapan antagonis itu, ocehan antagonis itu, masih terdengar jelas dan fasih dalam ingatan, terucap tapi tak terkata walau aku tau sesungguhnya dia ingin menyatu dalam duniaku dengan caranya yang antagonis, dan dia berhasil!! setiap saat dia slalu ada dalam pikiranku walau dalam perannya yang antagonis. Kini tak bisa dipungkiri aku kehilangan nya, aku merindukan perhatian antagonis nya, kelakuan antagonisnya, dan mulai saat ini kuputuskan dia menjadi salah satu teman terbaik yang kurindukan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar