Entri Populer

Selasa, 24 Januari 2012

It's KBM time

     Pokoknya terserah kalian mau tak mau kalian harus ikut berpatisipasi dalam acara ini, buktikan kalau kalian bisa menghargai senior- senior kalian, kata salah satu senior kampusku. Dia mengedarkan pandangan nya kearah kami.
     Tapi bang, bagaimana kalo kami berhalangan untuk mengikuti acara itu bang??dengan ragu- ragu salah satu teman ku memberanikan diri mengangkat tangannya.
     Bagi kalian yang berhalangan untuk ikut silahkan kalian buat KTI dan hari selasa dikumpulkan. kata si abang yang maju mendekat kearah kami.Tradisi turun temurun di kampus ku, senior harus mengadakan KBM, agar bisa menjalin kekompakan antar sesama mahasiswa yang baru masuk dengan senior yang telah lebih dulu, dan juga untuk mebaktikan diri ke masyarakat bersama- sama.
     Sudah seminggu dari diumumkannya acara KBM, hanya tinggal 2 hari lagi untuk sampai di hari keberangkatan, kami akan mengadakan KBM di aie angek, yang terletak di bawah kaki gunung merapi dan semangatku untuk mengikuti acara KBM ini selalu saja pasang surut, dalam waktu sedetik dapat berubah untuk tidak ikut.
     Masih dengan keputusan untuk tidak ikut, tiba- tiba salah satu temanku berkata " bagaimana kalo nanti kita malah di hukum lebih parah lagi?? lebih baik kita pergi"  dan akhirnya kami sepakat untuk pergi saja, dengan semangat yang tidak menggebu- gebu kami mulai mempersiapkan perlengkapan untuk dibawa kesana.
     21 januari 2012, jam13.30 kami semua sudah berkumpul di kampus untuk pergi menuju lokasi KBM, aku suka dan benci dengan keberangkatan ini, benci kenapa KBM harus dilaksanakan sekarang disaat kuliah ku sedang padat-padatnya, tapi aku selalu senang dengan acara seperti ini. Setelah di pikir-pikir aku siap berlelah-lelah daripada melewatkan acara KBM ini :).
     Sesampai disana kulitku mulai menampakkan reaksinya terhadap udara disana, aku memang tidak terbiasa dengan udara dingin disana, angin yang berhembus silih berganti dan udara yang dingin menusuk sampai ke tulangku, kulit ku langsung berubah kering dan sedikit gatal disana-sini. tapi aku selalu terpesona melihat pemandangan alam disana, kami berada di kaki gunung merapi dan di suguhi keindahan gunung singgalang yang elok.
     Jarum pendek jam tangan ku menunjuk ke angka 6 dan jarum panjangnya mengarah ke angka 2, kami di kumpulkan di pekarangan rumah kosong, untuk menuju kesana aku harus berlelah- lelah dulu mendaki tangga yang amat tinggi dan sempit, sesampai disana suasana mulai berubah beberapa orang menampakan ketakutannya menatap rumah kosong tersebut, rumah itu menang tampak sudah lama tak dihuni, atap- atapnya sudah banyak yang terbuka dan tumbuhan sudah menyerbu masuk kedalam rumah.
     Aaaaaaaaaa....haaa..kyaaa...haaa. seketika terdengar teriakan dari salah satu juniorku di kampus, dia berteriak histeris dan meronta- ronta dalam pelukan teman- temannya. kami bergegas mengerubunginya seperti semut menemukan gula, ia terus meronta dan berteriak membuat semua orang menjadi panik.
     Ada apa ini, tolong angkat dia kesini, jangan panik, jangan takut. Suara panitia yang ikut dalam kerubungan itu menenangkan, beberapa saat kemudian suasana mulai mereda kami segera di pindah tempatkan ke tempat yang lebih tinggi, dengan lapangan yang luas, di sana telah terdapat kemah- kemah yang berdiri mengelilingi lapangan tersebut menghadap ke arah gunung singgalang, sungguh mempesona, sesaat kejadian tadi sempat hilang dari pikiran ku, ketakutan berubah menjadi kekaguman ku terhadap pemandangan alam ini, subhanallah....
     Malam itu semua panitia menjadi panitia siaga yang siap antar dan menjaga kami kemanapun kami pergi. Selesai sholat magrib berjamaah, kami di kumpulkan di tengah- tengah lapangan dan mengantri untuk mengambil makanan, dengan sebuah piring, gelas, dan sendok di tanganku, akupun ikut dalam antrian tersebut dengan semangat dan candaan bersama- teman- teman.
     Jam sepuluh malam kami semua masuk kedalam kemah masing- masing setelah acara pembukaan usai. malam itu sungguh sangat dingin sekali, angin sepoi-sepoi membuat aku menggigil dalam balutan jaket dan kain tipis aku gelisah tak bisa tidur didalam kemah, tenaga ku terkuras habis menahan dingin ini, malam itu terasa sangat panjang, aku hanya memejamkan mata dengan telinga masih mendengar suara disana-sini. Tiba- tiba tubuhku terasa kaku dan tak dapat digerakan, aku semakin takut dengan pikiran- pikiran ku, suara ku tiba-tiba saja hilang untuk beberapa saat, nafas ku terengah- engah berusaha untuk bergerak, didalam hati aku sibuk berkomat-kamit membacakan ayat kursi, sungguh aku tak dapat bergerak, untunglah ini tak berlangsung lama, setelah terbebas dari keadaan itu aku memeluk teman sebelah ku sekuat tenaga menghilangkan ketakutan- ketakutan ku.
     Bangunnn...bangun,,,, suara triakan dari luar kemah membangunkan ku, kami segera berkumpul di lapangan untuk pergi sholat subuh, kami semua sholat berjamah di musholla tak jauh dari perkemahan kami, hanya saja jalan menuju sana sangat terjal kami harus menuruni tangga setapak yang terbuat dari tanah dengan semak belukar disana-sini.
    Air disana panas tidak sedingin udaranya, terasa nyaman sekali membasahi wajahku, ingin rasanya berlama- lama membasahi wajah, tapi sederetan antrian panjang membuat ku harus bergegas untuk menyudahi kenyamanan ini,.
     Jam 10 aku dan teman- teman yang telah di bagi beberapa kelompok mulai menyusuri bukit, persawahan dan ladang dengan segenap semangat dan wajah yang tampak sangat berseri. Kami melakukan hiking, melewati posko pertama kami di suruh jalan jongkok agak beberapa meter, tapi dengan kekompakan kami untuk berbuat curang jalan jongkok berubah menjadi larian cepat di saat senior penjaga posko membelakangi kami. Posko pertama tlah kami lewati dan beberapa saat kemudian datanglah posko ke 2 menghadang, aku dan anggota kelompok disuruh berbaris rapi di dalam semak belukar, disana kami harus membuat nama- nama semua senior panitia yang di selingi pertanyaan- pertanyaan mengejutkan yang membuat jantung kami semua berdetak lebih kencang lagi, setelah terbebas dari posko 2 aku dan kelompokku melanjutkan perjalanan menuju posko 3, di sepanjang jalan kami sibuk beramah tamah dengan petani yang sedang sibuk mengurusi ladangnya. orang di sana sangat ramah tamah, sapaan kami di balas dengan senyuman dan anggukan yang tulus. beberapa ada yang menawarkan hasil ladang nya untuk kami bawa. :D
      Heeyyyyy...kalian yang baru datang berbaris disini, cepattttttttttt.... !!!!. suara itu mengejutkan ku, aku segera berlari kearaah suara itu dan cepat- cepat membuat barisan, tampak- kakak- kakak di depan ku berbisik- bisik dengan  mata yang mengawasi kami satu- persatu, dengan kata yang terbata- bata dan senyuman di bibir, mereka menyuruh kami semua untuk masuk kedalam lumpur kerbau yang sangat bau itu, dengan tampang pasrah, aku ikhlas dan sabar menjalani perintah kakak- kakak itu kami semua seperti pisang yang celupkan kedalam coklat dengan bau busuk yang menyengat...dan akhirnya itu menjadi posko terakhir yang kami lewati.
     Dengan senyuman dan hati riang gembira akhirnya sampailah kami di perkemahan, aku segera mengambil peralatan mandi dan baju ganti, berjalan dengan tergesa- gesa ke pemandian umum, takut kalau nanti waktu mandi habis, kami semua di batasi waktu mandi karena warga disana juga menggunakan tempat mandi umum yang kami gunakan. ini kali pertamanya aku mandi di pemandian seperti ini, di sana terdapat beberapa air pincuran dan kolam besar yang memanjang, air nya yang hangat membuat ku betah berlama- lama berada di dalamnya. Sembari mandi kami semua di tugasi untuk membersihkan pemandian umum itu. dengan perlatan gundar di tangan kami mulai membersihkan pemandian umum tersebut dengan sabun colek yang membusa.
     Sore itu kami di kumpulkan di tengah lapangan kami disiapkan untuk mengisi acara malam keakraban yang akan di adakan malam ini. Semua anggota kelompokku sibuk mengeluarkan ide masing- masing agar menjadi juara dalam tampilan nanti malam, kami berlatih dengan semangat dan di selingi candaan dan celoteh lucu dari mereka. Adzan magrib menghentikan semua kegiatan kami, semua bergegas ke kemah masing- masing bersiap untuk sholat jamaah bersama.
     Angin semakin menampakan kekuatannya, berhembus kesana kemari dengan dinginnya yang tiada tara, satu persatu peserta KBM pun tumbang, mereka menangis menahan dingin dan kaki yang keram, ada juga yang sesak nafas, dan hampir semua peserta jatuh sakit di bawa ke tenda utama untuk di obati, aku menjadi salah satu diantara orang yang sakit itu, aku tak tahan dengan dingin yang menusuk ke tulangku, gigiku berdentang-dentang dengan cepat seluruh tubuh ku gemetaran aku di papah memasuki tenda dan segera di lumuri minyak yang berbau tidak begitu menyengat kaki dan tangan ku di gosok dengan minyak tersebut hingga aku terlelap dalam tidur.
     Aaaaaaaaaaaaaaaaa.......aaaaaaaaaaa....aaa.....jangan ganggu aku... triakan suara itu membuat ku terkejut, tapi itu tak mengurungkankan niatku untuk melanjutkan tidur, tiba- tiba tubuh ku terasa berguncang salah satu senior membangunkan dan menyuruhku untuk cepat- cepat pindah ke tenda utama, melihat ku tergopoh- gopoh keluar dari tenda teman- teman ku segera berlari ke arah ku dan membawa ku ke tengah lapangan duduk mengelilingi api unggun, di tengah lapangan itu aku di selimuti kain- kain dan jaket sehingga angin dingin tak dapat lagi menemukan kulit ku. orang- orang sibuk berbisik- bisik menceritakan kesurupan yang barusan terjadi. tapi aku tak peduli dengan itu semua, tubuhku terlalu letih untuk memikirkan hal itu.
     Tiba- tiba suara triakan semakin banyak mendarat di telinga ku, aku yang sedang tertidur di tenda utama segera melayangkan pandanganku kearah triakan- triakan itu tampak 2 orang teman setenda ku sedang meronta- ronta dan berteriak histeris. mereka di pegangi oleh beberapa senior panitia. "Ppanaaaaassss..panasssss, takut...... takut......aaaaaaapanas...aaaaa.. " kombinasi dari kedua suara teman ku itu membuat gaduh dan membangunkan semua orang yang berada disana, hingga semua kami yang berada di tenda utama diungsikan ke musholla terdekat.
     Langit tlah berubah cerah, matahari tlah memancarkan sinarnya, semua kegelapan tlah hilang, pagi ini semuanya tlah membaik, kami semua kembali ke perkemahan dan sarapan dengan lontong dan air panas yang menghangatkan tubuh, sehabis sarapan semua sibuk bersiap- siap untuk pulang kegitan kami tidak lagi dilanjutkan melihat kondisi dari semua perserta KBM yang tak memungkin kan lagi, hanya kegiatan ramah tamah antar senior dan junior sampai jam 10, setelah itu kami menunggu bis yang akan mengantarkan kami kembali ke padang.
     Ini sudah jam 1 siang, tapi bis yang kami tunggu- tunggu belum juga tampak dari ujung pembelokan sana, tiba- tiba panitia berlari kearah kami dan mengumumkan kalau bus yang akan kami tumpangi terkena macet. wajah lelah dan letih dari peserta tampak semakin kecewa, mereka berkomat kamit mengomentari bus dan jalanan yang macet, hingga jam 4.30 sore datang berderet- deret mobil angkutan kecil, semua mobil berjumlah 14 mobil, kami semua menyerbu menaiki mobil tersebut, tubuh lelah ku segera menduduki mobil kecil yang sesak itu, kami duduk berdempet-dempetan, tapi tak ada yang berani berkomentar, hanya senyuman dan harapan cepat sampai di padang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar